Pendidikan
para ahli mendasarkan diri pada pendidikan individu dalam menilai performancenya, sehingga pendidikan memiliki posisi sentral dalam kehidupan.
dalam menilai individu, seringkali dan selalu dikaitkan dengan pendidikan. pada saat individu berbuat sesuatu, orang akan mengatakan : " apakah dia tidak mendapatkan pendidikan tentang......?
pendidikan sebagai salah satu option dari lingkungan, sebagaimana Rasul SAW menyatakan bahwa : setiap individu dilahirkan dalam kondisi fitrah, dan lingkunganlah yang mempengaruhi mau jadi seperti apa individu tersebut di masa depannya"
fitrah, merupakan karunia Tuhan yang berupa potensi-potensi yang perlu dikembangkan semaksimal mungkin.
sementara lingkungan memberi pengaruh yang sangat hebat, tengoklah kehidupan indivdiu di sekitar kita, ligkungan yang seperti apakah yang ada di sekitar individu, sehingga ia berperilaku seperti yang tampak dihadapan kita. semua akan jadi renungan yang menarik.
semoga menjadi kajian yang selalu hangat.
Rabu, 01 April 2015
PSIKOTERAPI PSIKOANALITIK
A. PSIKOTERAPI PSIKOANALITIK
a. Pandangannya tentang manusia : Manusia sebagai “homo volens” dengan berbagai dorongan dan keinginannya.
Menurut Ivey, dkk. Paham Psikoanalitik memandang manusia sebagai “deterministic”. Manusia dikendalikan/dikemudikan oleh hal-hal yang tidak disadari dari sesuatu yang yang sudah lewat. Latar belakang biologis dari seks, agresivitas dan dorongan hidup, penting.
Menurut Corey, paham Psikoanalitik konsepnya tentang manusia adalah bahwa manusia pada hakekatnya ditentukan oleh kekuatan psikis dan pengalaman terdahulu. Dorongan yang tidak disadari dan konflik-konflik yang ada adalah sesuatu yang penting pada keadaan perilaku sekarang. Dorongan tidak rasional kuat yakni dorongan seks dan agresivitas. Perkembangan awal sangat penting, karena masalah kepribadian yang dihadapi seseorang sekarang ini, bersumber pada konflik-konflik yang ditekan ketika kecil.
b. Konsepsinya tentang perilaku bermasalah : Psikoanalisa memandang perilaku bermasalah sebagai ketidakmampuan manusia dalam menguasai dorongan yang tidak dapat diterima oleh masyarakat.
c. Tujuan khusus psikoterapi psikoanalisa adalah membuat sesuatu yang tidak disadari menjadi sesuatu yang disadari (Ivey, dkk. Dan Corey dalam DirgaGunarsa, 1996 : 159).
Menurut Atkinson, dkk. tt : 493, mengangkat konflik (emosi dan motif yang di represi) ke kesadaran sehingga dapat ditangani dengan cara yang lebih rasional dan realistic.
Membantu klien dalam menghidupkan kembali pengalaman-pengalaman yang sudah lewat dan bekerja mlalui konflik-konflik yang dir\tekan melalui pemahaman intelektual. Atau dengan cara merekonstruksi kepribadiannya dilakukan terhadap kejadian-kejadian yang sudah lewat dan menyususn sintesis yang baru dari konflik-konflik yang lama.
d. Prosedur utama yang digunakan :
1. Asosiasi bebas (free association)
2. Analisis mimpi (dream analysis)
3. Analisa resistensi (resistances analysis)
4. Analisa trasferensi (transference analysis)
5. Penafsiran (interpretasi)
Asosiasi bebas adalah suatu metode pemanggilan kembali pengalaman-pengalaman masa lampau dan pelepasan emosi yang berkaitan dengan situasi-situasi traumatic dimasa lampau, yang dikenal dengan katarsis (corey, 1999:41).Dalam teknik ini klien, dalam keadaan rileks, biasanya berbaring di atas dipan atau sofa, berbicara tentang apa saja yang terlintas dalam pikirannya, tanpa terlalu banyak di potong. Teori yang mendasarinya ialah bahwa lewat diskusi yang kelihatannya tanpa tujuan ini, dilengkapi dengan analisa terhadap mimpi-mimpi klien, maka klien akan menjadi insaf tentang kejadian-kejadian di masa lalunya yang telah menyebabkan atau tengah enjadi sebab bagi kesulitannya.
Analisa mimpi, yaitu meminta klien untuk menceritakan mimpi-mimpinya. Dasarnya adalah bahwa mimpi dipandang sebagai sumber informasi yang baik sekali tentang konflik-konflik yang sudah ditekan ke alam bawah sadar. Freud meyakini bahwa materi pokok dari mimpi yang disebut isi yang nyata (manifest content) sebetulnya mencerminkan makna sesungguhnya yang disebut isi yang tersembunyi (latent content). Freud meyakini bahwa dengan membicarakan isi manifes dari suatu mimpi dan kemudian mengasosiasi bebas isi mimpi, merupakan suatu upaya untuk mengungkapkan makna bawah sadar.
Analisa resistensi, resistensi merupakan reaksi klien yang tiba-tiba (secara mendadak) mengubah pembicaraan atau tidak mampu mengingat sesuatu peristiwa, menahan ingatan pikiran atau perasaan tertentu pada saat aosiasi bebas. Peristiwa penghambatan atau blocking ini dinamakan resistensi. Freud meyakini hal yang terjadi akibat kontrol bawah sadar individu terhadap bidang yang sensitive dan bidang itulah tepatnya yang harus dieksplorasi.
Analisa transferensi, transferensi merupakan respons emosional klien terhadap ahli terapi, dimana ahli terapi dianggap sebagai obyek respons emosional. Sehingga klien menganggap terapis sebagai orang lain yang sangat penting dimasa lalu dalam kehidupannya/ Freud meyakini, tranferensi mewakili relik-relik reaksi dimasa kanak-kanak terhadap orang tua, dan ia menggunakan sikap ini sebagai cara untuk menjelaskan kepada asal mula kekuatiran atau kecemasan serta ketakutan mereka di masa kanak-kanak.
Interpretasi atau penafsiran. Terapis membantu klien untuk mendapatkan tilikan (insight) ke dalam sifat konflik bawah sadar yang menjadi sumber kesulitannya, melalui interpretasi atau penafsiran. Interpretasi merupakan suatu hipotesis yang meringkaskan suatu segmen perilaku klien dan menawarkan suatu penjelasan tentang motivasinya.
Reedukasi, bukan merupakan suatu teknik terapi psikoananlisa, melainkan suatu upaya mendorong klien agar memperoleh pemahaman baru atas kehidupan yang dijalaninya, yang dilakukan pada tahap akhir dari terapi (Koewara, 1991:67-68).
Atau sambil analisa berjalan, klien mengalami proses reedukasi panjang yang berulang kali saat hal itu muncul di beberapa situasi, klien menjadi memahaminya dan dapat melihat betapa meresap (pervasive) sikap dan perilakunya itu. Dengan mengulang-ulang emosi masa kanak-kanak yang menyakitkan selama terapi, klien menjadi cukup kuat untuk menghadapi emosi itu dengan kecemasan yang lebih kecil dan mampu menghadapinya dengan cara yang lebih realistic. Atau klien menemukan cara-cara yang kongret dalam menyusun kembali perasaan dan perilakunya (Atkinson, dkk. : 495).
Menurut Diah Karmiyati dan Cahyaning Suryaningrum( 2005:22-25) tahapan terapi Psikoanalisa meliputi ;
1. Komunikasi
2. Interpretasi
3. Insight
4. Working through
1. Komunikasi. Merupakan komunikasi antara klien dengan terapis melalui asosiasi bebas. Dalam komunikasi terapis berusaha mempelajari perilaku klien dalam berbagai situasi untuk menemukan elemen-elemen terkecil penyebab penyimpangan perilaku klien (disebut common denominators = cd). Cara dalam menemukan cd ada beberapa yaitu ;
a. Tahap horizontal : menemukan cd dengan cara mempelajari hubungan klien dengan orang lain (hubungan interpersonal) dalam kehidupan sehari-harinya sekarang.
b. Tahap vertical : menemukan cd dengan cara melacak/menyelidi sejarah perkembangan pola perilaku kien berdasarkan pengalaman-pengalaman masa lalu, dapat dengan cara asosiasi bebas maupun cara-cara lain. Seringkali perlu untuk menunjukkan pada klien cd yang ditemukan dengan cara horizontal maupun vertical mengenai pola-pola perilakunya untuk mengarahkan pada solusi problemnya.
c. Hubungan antara klien dengan terapis lewat situasi/peristiwa transferensi akan didapatkan inti persoalan yang menyebabkan perilaku menyimpang pada klien. Di dalam Psikoanalisa di kenal dengan istilah analisis situasi tranferensi.
2. Interpretasi. Ketika telah menyadari sejumlah situasi kehidupan klien, analis akan menemukan cd tertentu di dalam pola-pola perilaku klien dan menunjukkan pada klien. Dalam tahap ini terapis berusaha menyadasrkan klien adanya tingkah laku distorsi. Interpretasi berarti bahwa terapis menunjukkan kepada klien cd di dalam pola-pola perikunya secara horizontal, vertical dan dalam hubungan terapis dengan klien. Pada ketiga cara tersebut terapis menemukan bahwa klien mengalami distorsi-distori aperseptif dalam kehidupannya. Jadi interpretasi pada dasarnya menunjukkan cd dan hubungannya dengaan kehidupan masa-masa awal klien.
3. Insight. Istilah ini secara sederhana diartikan bahwa klien sudah menyadari keadaan dirinya (mentalnya) yang sedang tidak sehat. Dalam konteks psikoterapi dinamik insight diartikan sebagai kemampuan klien untuk melihat hubungan natara simtom dengan distorsi aperseptif yang tidak disadari sebelumnya yang mendasari simtomnya. Secara lebih jelas dikatakan bahwa insight sebagai apersepsi klien terhadap cd dari perilakunya yang telah ditunjukkan oleh terapis. Proses insight dapat dianalisa dari dua segi yaitu :
a. Segi intelektual :
● Menyangkut hal-hal kognitif (penalaran).
● Kemampuan klien melihat adanya saling huungan antara pola-pola perilakunya sehari-hari yang “sakit’ dengan pengalaman-pengalaman/pola-pola perilaku pada masa lalu meski secara garis besar.
● Klien baru dikatakan 1/3 sembuh.
b. Segi emosional :
● Menyangkut perasaan.
●Kemampuan klien memproduksi/menunjukkan perasaan-perasaannya sebagai kelanjutan dari apa yang telah dimengerti pada segi intelektual.
● Bentuknya bisa berupa penyesalan, kelegaan, merasa bersalah, dan sebagainya.
● Sudah ada kontak antara kognisi dan emosi.
● Klien dikatakan ½ sembuh.
Perlu ditekankan bahwa jika insight hanya terjadi pada segi intelektual saja, hasil terapi menjadi tidak ada artinya karena pembentukan kembali pola dari segi emosional adalah bagian esensial dari proses terapeutik.
4. Working Through. Tahap merealisasikan yang telah diperoleh pada tahap insight. Tahapannya adalah :
a. Tahap intelektual : klien diharapkan mengaplikasikan apa yang telah dipelajari dan ditanamkan terapis dengan cara melakukan analogi kejadian-kejadian dalam kehidupan dalam berbagai situasi.
b. Tahap emosional : klien diharapkan dapat mengaplikasikan melalui emosi/afeksi terhadap kejadian-kejadian yang dihadapi dalam kehidupannya.
c. Tahap behavioral : mengaplikasikan pada situasi yang sesungguhnya; sudah bukan percobaan-percobaan lagi dan diharapkan klien sudah sembuh.
Perbedaan konseling dan psikoterapi
Perbedaan konseling dan psikoterapi
Andi Mappiare (1996) menerangkan tentang perbedaan antara konseling dan psikoterapi, yang dirangkum sebagai berikut :
Konseling
|
Psikoterapi
| |
Lingkup
|
Bagian dari Psikoterapi
|
Bentuk terapi psikologi
Sekaligus Konseling.
|
Fokus
|
Pengembangan, Pendi-dikan dan Pencegahan.
|
Penyembuhan,Penyesu-
aian dan Pengobatan.
|
Dasar
|
Falsafah atau pandangan tentang manusia.
|
Ilmu atau teori Kepribadian dan Psikopatologi.
|
Tujuan dan cara
|
Identifikasi dan pengembangan Kekuatan positif pada individu.
Membantu klien untuk menjadi seorang yang berfungsi secara sempurna.
|
Mengatasi kelemahan tertentu melalui berbagai cara praktis : pembedahan psikis dan pembedahan otak.
|
Lebih lanjut, ada yang meninjau bahwa perbedaan psikoterapi dan konseling dibedakan berdasarkan : jangka waktu dan fokus masalahnya. Psikoterapi pada umumnya membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan konseling. Disamping itu psikoterapi lebih ditujukan untuk permasalahan yang lebih berat yang ditujukan kearah pemahaman diri yang intensif tentang dinamika-dinamika yang bertanggungjawab atas terjadinya krisis-krisis kehidupan.
Corey (1999 : 11) mengemukakan bahwa konseling menunjuk pada proses di mana klien diberi kesempatan untuk mengeksplorasi diri yang bisa mengarah pada peningkatan kesadaran dan kemungkinan memilih. Proses konseling sering berjangka pendek, difokuskan pada masalah-masalah dan membantu individu dalam menyingkirkan hal-hal yang menghambat pertumbuhannya. Individu juga dibantu untuk menemukan sumber-sumber pribadi agar bisa hidup lebih efektif. Psikoterapi difokuskan pada proses-proses tak sadar, lebih banyak berurusan dengan pengubahan struktur kepribadian. Lebih digerakkan kearah pemahaman diri yang intensif tentang dinamika-dinamika yang bertanggungjawab atas terjadinya krisis-krisis kehidupan, dibanding dengan hanya mengatasi krisis kehidupan tertentu.
Menurut Suprapti (2003 ) psikoterapi merupakan salah satu intervensi dalam konteks hubungan profesional antara psikolog dengan klien. Bila digambarkan secara umum, tujuan psikoterapi ialah untuk pemecahan masalah, untuk peningkatan kemampuan seseorang untuk lebih berbahagia. Untuk tujuan tersebut psikoterapi sulit dibedakan dengan konseling psikologis yaitu proses memberikan bantuan psikologis kepada seseorang untuk dapat memecahkan masalahnya sendiri dan untuk mengembangkan kepribadian seoptimal mungkin.
Referensi :
Andi Mappiare, 1996, Pengantar konseling dan psikoterapi, Jakarta : Raja Grafindo Persada
Suprapti S.M., 2003, Pengantar Psikologi Klinis, Jakarta : UI Press
Pengertian Psikoterapi
Pengertian Psikoterapi
Membahas tentang :
Definisi dan tujuan Psikoterapi
Psikoterapi secara bahasa, berasal dari kata “psyche” yang berarti jiwa dan “therapy” yang berarti merawat atau mengasuh. Sehingga psikoterapi berarti perawatan terhadap aspek kejiwaan seseorang.
Atkinson, dkk. Menyatakan Psikoterapi berarti pengobatan gangguan mental dengan cara psikologis, bukan fisik atau biologis.
Davidoff (1991 : 259), psikoterapi adalah sebagai prosedur perawatan psikologis untuk menolong orang yang terganggu kejiwaannya. Psikoterapi pada intinya dipandang sebagai usaha menyusun pengalaman sedemikian rupa, sehingga penderita mampu menyesuaikan diri dengan hidup menurut cara yang lebih memuaskan dan lebih produktif.
Menurut Frank, Psikoterapi sebagai interaksi terencana antara seorang terlatih, yang mempunyai kewenangan sosial untuk melakukan terapi, dengan seorang yang menderita, dimana dalam interaksi ini terapis berusaha untuk meringankan penderitaan penderita, melalui komunikasi simbolik, khususnya kata-kata maupun aktivitas fisik.
Menurut Lewis R. Wolberg, Psikoterapi adalah suatu bentuk perlakuan (treatment) dengan cara-cara psikologis terhadap masalah yang sifatnya emosional, dimana orang yang terlatih secara sengaja membina hubungan profesional dengan seorang klien, dengan tujuan menghilangkan, mengubah atau memperlambat simptom, untuk mengantarai pola perilaku terganggu dan meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan pribadi yang positif (Suprapti, 2003:136; Sutardjo, 2004:84; DirgaGunarsa, 1996:78).
Berdasarkan pengertian menurut Wolberg tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Psikoterapi adalah perlakuan atau penanggulangan. Tidak penting bagaimana kita melakukan usaha dalam psikoterapi, namun intinya adalah penanggulangan. Istilah lain yang digunakan adalah reedukasi, proses pertolongan dan bimbingan. Tidak sekedar pemerian atas kejadian-kejadian dalam cara penanggulangan, melainkan senantiasa dengan tujuan yang jelas ialah menanggulangi masalah yang dihadapi oleh klien.
2. Dengan cara-cara psikologis. Psikoterapi merupakan istilah generik bagi seluruh spektrum metode penanggulangan psikologis. Rentang ini mulai dari manuver yang dirancang untuk hubungan klien dengan terapis sampai cara-cara indoktrinasi untuk mengubah sistem nilai, sampai taktik-taktik yang diarahkan pada proses intrapsikis, sampai pembiasaan mengubah mekanisme neural. Tidak termasuk dalam psikoterapi adalah terapi-terapi somatik seperti obat, terapi konvulsif, pembedahan dll. Yang meskipun memiliki efek terapeutik, tidak secara tegas menampilkan ciri psikoterapi.
3. Untuk masalah-masalah emosional. Masalah emosional yang berbeda-beda, mempengaruhi setiap fase pemfungsian manusia. Masalah itu memanifestasikan diri dalam berbagai gangguan psikis, somatik, kehidupan antarpribadi dan komunikasi. Manifestasi sakit atau gangguan mental itu bersifat ganda (multiple), dan melibatkan keseluruhan kehidupan manusia. Dalam pandangan demikian tidak memadai untuk memisahkan kesukaran-kesukaran sosial dan antarpribadi dari gangguan psikis dan psikofisiologis, yang meskipun selalu berkesesuaian, tetapi tidak selalu jelas.
4. Orang terlatih. Dalam upaya meredakan kesukarannya, manusia cenderung melibatkan dirinya dalam suatu relasi dengan teman atau otoritas. Motivasi yang melatarbelakanginya adalah simton cacat atau realisasi dimana kebahagiaan dan produktivitas orang dirusak oleh kekuatan-kekuatan dalam yang tidak selalu mereka mengerti dan dapat dikendalikan. Untuk itu tidak semua orang bisa melakukannya, sehingga akan diperlukan pelatihan yang memadai.
5. Membina hubungan profesional (dengan sengaja membangun relasi profesional). Relasi, yang merupakan inti psikoterapi, secara sengaja dirancang dan dilakukan terapis. Sifat profesional mengandung arti adanya prosedur yang baku disertai dengan tanggungjawab, meskipun tidak selalu tertulis dalam peraturan formal. Dalam hal ini kedudukan dewan kehormatan organisasi profesi sangat diperlukan.
6. Dengan klien atau pasien. Karena individu dalam rangka psikoterapi mendapat bantuan penanggulangan, maka ia disebut klien atau pasien.
7. Obyeknya pemindahan simptom. Tujuan utama terapi adalah menghilangkan penderitaan klien, seperti memindahkan hambatan dalam bentuk simptom.
8. Mengubah simptom. Meskipun harapan terapi meredakan secara lengkap. Namun lingkungan tertentu dapat menghambatinya. Penolakan utama adalah tidak memadainya, lemahnya kekuatan ego, dan keterbatasan kien dalam waktu dan dana.
9. Menghambat simptom. Terdapat beberapa bentuk gangguan emosional, seperti gangguan skizofrenik yang parah, sehingga usaha-usaha psikoterapi tidak dapat menghilangkannya, maka psikoterapi ini hanya menghambat perkembangan saja. Ini hanya berfungsi paliatif saja.
10. Mengantarai pola perilaku terganggu. Ditemukannya banyak permasalahan emosioanl dalam berbagai lapangan kehidupan, seperi di sekolah, pekerjaan, perkawinan/rumah tangga, dan hubungan antar manusia menyebabkan penggunaan psikoterapi berkembang ke profesi yang sebelumnya hanya psiakiter. Sekarang menjadi kegiatan psikolog, pendidik, sosiolog, pemuka agama dan lain-lain. Kiprah psikologi dalam psikoterapi melambung pada tahun 1970-an. Dimana kegiatan mereka terbalik dengan beberapa puluh tahun sebelumnya, ialah menjadi 90 % psikoterapi atau intervensi dan hanya 10 % asesmen atau psikodiagnostik. Selanjutnya pula realisasi bahwa struktur karakter terlibat dalam seluruh gangguan dan permasalahan emosional, memperluas tujuan atau obyektif psikoterapi sebagai cara untuk meredakan gangguan atau kesalahan dalam relasi antarpribadi.
11. Meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan kepribadian positif. Manfaat psikoterapi pada akhirnya adalah sebagai kendaraan untuk membangun kedewasaan kepribadian. Ini merupakan dimensi baru psikoterapi, suatu dimensi yang di satu pihak berhadapan dengan masalah ketidakmatangan pada yang disebut orang normal, dan di lain pihak dengan kesukaran karakterologis yang berhubungan dengan pertumbuhan yang terhambat. Dalam hal ini, psikoterapi bermaksud meresolusi hambatan dalam perkembangan psikologis agar individu dapat lebih kreatif dalam menemukan kepuasan, lebih produktif dalam sikapnya terhadap kehidupann, dan memuaskan dalam relasinya dengan orang lain. Tujuan psikoterapi dengan demikian berkembang dan obyektif yang terbatas dalam menolong untuk mengendalikan simptom sampai mengembangkan sumber-sumber kehidupan jiwa yang lebih kaya.
(Sutardjo, A.W., 2004 : 84-86).
Psikoterapi merupakan salah satu intervensi psikologis. Dimana intervensi dalam rangka psikologi berarti membantu klien atau pasien untuk menyelesaikan masalah psikologis, terutama sisi emosionalnya. Dimana profesional yang telah terlatih menggunakan pengetahuannya mengenai pemfungsian manusia dan sistem-sistem sosial dengan kombinasi dengan asesmen psikologis guna merumuskan cara untuk membantu perubahan klien ke arah yang lebih baik.
Alasan penggunaan intervensi klinis, didasarkan atas 3 (tiga) dasar, yaitu :
1. Ameliorasi
2. Prevensi, dan
3. Pengembangan
Ameliorasi adalah menolong orang atau sistem sosial untuk menanggulangi masalah-masalah yang telah terjadi. Misalnya menangani orang yang mengalami rasa cemas atau gagal.
Prevensi adalah usaha-usaha untuk meramalkan masalah-masalah sebelum berkembang. Misalnya merencanakan pembangunan suatu pusat rekreasi agar masyarakat sekitar tidak melakukan kenakalan.
Pengembangan adalah usaha untuk membantu orang meningkatkan ketrampilan pribadi, relasi dan lingkungan hidupnya. Dengan pengembangan dimaksudkan meningkatkan kualitas hidup dari pada menyelesaikan masalah atau mengatasi disfungsi.
b. Tujuan Psikoterapi
Secara umum, menurut E.J. Phares (dalam Suprapti, 2003 : 135) tujuan psikoterapi adalah untuk pemecahan masalah, untuk peningkatan kemampuan seseorang mengatasi masalahnya sendiri, pencegahan timbulnya masalah, peningkatan kemampuan seseorang untuk lebih berbahagia.
Berdasarkan kedalamannya, E.J. Phares membagi psikoterapi atas :
1. Psikoterapi suportif
2. Psikoterapi reedukatif
3. Psikoterapi konstruktif
Psikoterapi suportif, tujuannya memperkuat perilaku penyesuaian diri klien yang sudah baik, memberi dukungan psikologis, menghindari diri dari usaha untuk menggali apa yang ada dalam alam bawah sadar klien. Alasan penghindaran karena kalau akan “dibongkar” ketidaksadarannya, klien ini kemungkinan akan lebih parah dalam penyesuaian dirinya. Psikoterapi suportif biasanya dilakukan untuk memberikan dukungan pada klien untuk tetap bertahan menghadapi kesulitannya.
Psikoterapi reedukatif, bertujuan untuk mengubah pikiran atau perasaan klien agar ia dapat berfungsi lebih efektif. Terapis tidak hanya memberi dukungan, tetapi juga mengajak klien untuk mengkaji ulang keyakinan klien, mendidik kembali, agar ia dapat menyesuaikan diri dengan lebih baik, setelah mempunyai pemahaman yang baru atas persoalannya. Terapis tidak hanya membatasi membahas kesadaran, tetapi juga tidak terlalu mendalam menggali ketidaksadaran. Psikoterapi jenis ini lebih banyak dalam konseling.
Psikoterapi rekonstruktif, bertujuan mengubah seluruh kepribadian klien, dengan menggali ketidaksadaran klien, menganalisis mekanisme defensif yang patologis, memberi pemahaman akan adanya proses-proses tidak sadar. Psikoterapi jenis ini berkaitan dengan pendekatan psikoanalisa dan biasanya berlangsung intensif dalam waktu yang sangat lama.
Menurut Hokanson, berdasarkan tujuannya membahas psikoterapi yang bertujuan :
☻ Untuk mengatasi krisis
☻ Untuk perubahan perilaku
☻ Untuk mengubah pengalaman emosional, dan
☻ Untuk memperoleh pemahaman (Insight)
Menurut Prawitasari (dalam Subandi, 2000:212-213), tujuan psikoterapi secara lebih spesifik meliputi beberapa aspek kehidupan manusia :
1. Memperkuat motivasi untuk melakukan hal-hal yang benar.
2. Mengurangi tekanan emosi melalui pemberian kesempatan untuk mengekspresikan perasaan dalam.
3. Membantu klien mengembangkan potensinya.
4. Mengubah struktur kognitif.
5. Meningkatkan pengetahuan dan kapasiatas untuk mengambil keputusan, dengan
6. Meningkatkan pengetahuan diri dan insight.
7. Meningkatkan hubungan antarpribadi.
8. Mengubah lingkungan sosial individu.
9. Mengubah proses somatik supaya mengurangi rasa sakit dan meningkatkan kesadaran tubuh melalui latihan-latihan fisik.
10.Mengubah status kesadaran untuk mengembangkan kesadaran, kontrol dan kreativitas diri.
Buku Rujukan :
Atkinson, dkk. (1993), Pengantar Psikologi jilid 2, Edisi Indonesia oleh Widjaya Kusuma, tt., Batam : Interaksara
Davidoff, L.L. (1991), Psikologi suatu pengantar jilid 2, edisi Indonesia oleh Mari Juniati, Jakarta : Erlangga
DirgaGunarsa, S. (1996), Konseling dan Psikoterapi, Jakarta : BPK Gunung Mulia
Subandi, 2000, Strategi pengembangan psikoterapi berwawasan Islam, (dalam Metodologi Psikologi Islam), Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Suprapti S.M. (2003), Pengantar Psikologi Klinis, Jakarta : UI Press
Sutardjo Wiramihardja, (2004), Pengantar Psikologi Klinis, Bandung : Refika Aditama
Langganan:
Komentar (Atom)