A. PSIKOTERAPI PSIKOANALITIK
a. Pandangannya tentang manusia : Manusia sebagai “homo volens” dengan berbagai dorongan dan keinginannya.
Menurut Ivey, dkk. Paham Psikoanalitik memandang manusia sebagai “deterministic”. Manusia dikendalikan/dikemudikan oleh hal-hal yang tidak disadari dari sesuatu yang yang sudah lewat. Latar belakang biologis dari seks, agresivitas dan dorongan hidup, penting.
Menurut Corey, paham Psikoanalitik konsepnya tentang manusia adalah bahwa manusia pada hakekatnya ditentukan oleh kekuatan psikis dan pengalaman terdahulu. Dorongan yang tidak disadari dan konflik-konflik yang ada adalah sesuatu yang penting pada keadaan perilaku sekarang. Dorongan tidak rasional kuat yakni dorongan seks dan agresivitas. Perkembangan awal sangat penting, karena masalah kepribadian yang dihadapi seseorang sekarang ini, bersumber pada konflik-konflik yang ditekan ketika kecil.
b. Konsepsinya tentang perilaku bermasalah : Psikoanalisa memandang perilaku bermasalah sebagai ketidakmampuan manusia dalam menguasai dorongan yang tidak dapat diterima oleh masyarakat.
c. Tujuan khusus psikoterapi psikoanalisa adalah membuat sesuatu yang tidak disadari menjadi sesuatu yang disadari (Ivey, dkk. Dan Corey dalam DirgaGunarsa, 1996 : 159).
Menurut Atkinson, dkk. tt : 493, mengangkat konflik (emosi dan motif yang di represi) ke kesadaran sehingga dapat ditangani dengan cara yang lebih rasional dan realistic.
Membantu klien dalam menghidupkan kembali pengalaman-pengalaman yang sudah lewat dan bekerja mlalui konflik-konflik yang dir\tekan melalui pemahaman intelektual. Atau dengan cara merekonstruksi kepribadiannya dilakukan terhadap kejadian-kejadian yang sudah lewat dan menyususn sintesis yang baru dari konflik-konflik yang lama.
d. Prosedur utama yang digunakan :
1. Asosiasi bebas (free association)
2. Analisis mimpi (dream analysis)
3. Analisa resistensi (resistances analysis)
4. Analisa trasferensi (transference analysis)
5. Penafsiran (interpretasi)
Asosiasi bebas adalah suatu metode pemanggilan kembali pengalaman-pengalaman masa lampau dan pelepasan emosi yang berkaitan dengan situasi-situasi traumatic dimasa lampau, yang dikenal dengan katarsis (corey, 1999:41).Dalam teknik ini klien, dalam keadaan rileks, biasanya berbaring di atas dipan atau sofa, berbicara tentang apa saja yang terlintas dalam pikirannya, tanpa terlalu banyak di potong. Teori yang mendasarinya ialah bahwa lewat diskusi yang kelihatannya tanpa tujuan ini, dilengkapi dengan analisa terhadap mimpi-mimpi klien, maka klien akan menjadi insaf tentang kejadian-kejadian di masa lalunya yang telah menyebabkan atau tengah enjadi sebab bagi kesulitannya.
Analisa mimpi, yaitu meminta klien untuk menceritakan mimpi-mimpinya. Dasarnya adalah bahwa mimpi dipandang sebagai sumber informasi yang baik sekali tentang konflik-konflik yang sudah ditekan ke alam bawah sadar. Freud meyakini bahwa materi pokok dari mimpi yang disebut isi yang nyata (manifest content) sebetulnya mencerminkan makna sesungguhnya yang disebut isi yang tersembunyi (latent content). Freud meyakini bahwa dengan membicarakan isi manifes dari suatu mimpi dan kemudian mengasosiasi bebas isi mimpi, merupakan suatu upaya untuk mengungkapkan makna bawah sadar.
Analisa resistensi, resistensi merupakan reaksi klien yang tiba-tiba (secara mendadak) mengubah pembicaraan atau tidak mampu mengingat sesuatu peristiwa, menahan ingatan pikiran atau perasaan tertentu pada saat aosiasi bebas. Peristiwa penghambatan atau blocking ini dinamakan resistensi. Freud meyakini hal yang terjadi akibat kontrol bawah sadar individu terhadap bidang yang sensitive dan bidang itulah tepatnya yang harus dieksplorasi.
Analisa transferensi, transferensi merupakan respons emosional klien terhadap ahli terapi, dimana ahli terapi dianggap sebagai obyek respons emosional. Sehingga klien menganggap terapis sebagai orang lain yang sangat penting dimasa lalu dalam kehidupannya/ Freud meyakini, tranferensi mewakili relik-relik reaksi dimasa kanak-kanak terhadap orang tua, dan ia menggunakan sikap ini sebagai cara untuk menjelaskan kepada asal mula kekuatiran atau kecemasan serta ketakutan mereka di masa kanak-kanak.
Interpretasi atau penafsiran. Terapis membantu klien untuk mendapatkan tilikan (insight) ke dalam sifat konflik bawah sadar yang menjadi sumber kesulitannya, melalui interpretasi atau penafsiran. Interpretasi merupakan suatu hipotesis yang meringkaskan suatu segmen perilaku klien dan menawarkan suatu penjelasan tentang motivasinya.
Reedukasi, bukan merupakan suatu teknik terapi psikoananlisa, melainkan suatu upaya mendorong klien agar memperoleh pemahaman baru atas kehidupan yang dijalaninya, yang dilakukan pada tahap akhir dari terapi (Koewara, 1991:67-68).
Atau sambil analisa berjalan, klien mengalami proses reedukasi panjang yang berulang kali saat hal itu muncul di beberapa situasi, klien menjadi memahaminya dan dapat melihat betapa meresap (pervasive) sikap dan perilakunya itu. Dengan mengulang-ulang emosi masa kanak-kanak yang menyakitkan selama terapi, klien menjadi cukup kuat untuk menghadapi emosi itu dengan kecemasan yang lebih kecil dan mampu menghadapinya dengan cara yang lebih realistic. Atau klien menemukan cara-cara yang kongret dalam menyusun kembali perasaan dan perilakunya (Atkinson, dkk. : 495).
Menurut Diah Karmiyati dan Cahyaning Suryaningrum( 2005:22-25) tahapan terapi Psikoanalisa meliputi ;
1. Komunikasi
2. Interpretasi
3. Insight
4. Working through
1. Komunikasi. Merupakan komunikasi antara klien dengan terapis melalui asosiasi bebas. Dalam komunikasi terapis berusaha mempelajari perilaku klien dalam berbagai situasi untuk menemukan elemen-elemen terkecil penyebab penyimpangan perilaku klien (disebut common denominators = cd). Cara dalam menemukan cd ada beberapa yaitu ;
a. Tahap horizontal : menemukan cd dengan cara mempelajari hubungan klien dengan orang lain (hubungan interpersonal) dalam kehidupan sehari-harinya sekarang.
b. Tahap vertical : menemukan cd dengan cara melacak/menyelidi sejarah perkembangan pola perilaku kien berdasarkan pengalaman-pengalaman masa lalu, dapat dengan cara asosiasi bebas maupun cara-cara lain. Seringkali perlu untuk menunjukkan pada klien cd yang ditemukan dengan cara horizontal maupun vertical mengenai pola-pola perilakunya untuk mengarahkan pada solusi problemnya.
c. Hubungan antara klien dengan terapis lewat situasi/peristiwa transferensi akan didapatkan inti persoalan yang menyebabkan perilaku menyimpang pada klien. Di dalam Psikoanalisa di kenal dengan istilah analisis situasi tranferensi.
2. Interpretasi. Ketika telah menyadari sejumlah situasi kehidupan klien, analis akan menemukan cd tertentu di dalam pola-pola perilaku klien dan menunjukkan pada klien. Dalam tahap ini terapis berusaha menyadasrkan klien adanya tingkah laku distorsi. Interpretasi berarti bahwa terapis menunjukkan kepada klien cd di dalam pola-pola perikunya secara horizontal, vertical dan dalam hubungan terapis dengan klien. Pada ketiga cara tersebut terapis menemukan bahwa klien mengalami distorsi-distori aperseptif dalam kehidupannya. Jadi interpretasi pada dasarnya menunjukkan cd dan hubungannya dengaan kehidupan masa-masa awal klien.
3. Insight. Istilah ini secara sederhana diartikan bahwa klien sudah menyadari keadaan dirinya (mentalnya) yang sedang tidak sehat. Dalam konteks psikoterapi dinamik insight diartikan sebagai kemampuan klien untuk melihat hubungan natara simtom dengan distorsi aperseptif yang tidak disadari sebelumnya yang mendasari simtomnya. Secara lebih jelas dikatakan bahwa insight sebagai apersepsi klien terhadap cd dari perilakunya yang telah ditunjukkan oleh terapis. Proses insight dapat dianalisa dari dua segi yaitu :
a. Segi intelektual :
● Menyangkut hal-hal kognitif (penalaran).
● Kemampuan klien melihat adanya saling huungan antara pola-pola perilakunya sehari-hari yang “sakit’ dengan pengalaman-pengalaman/pola-pola perilaku pada masa lalu meski secara garis besar.
● Klien baru dikatakan 1/3 sembuh.
b. Segi emosional :
● Menyangkut perasaan.
●Kemampuan klien memproduksi/menunjukkan perasaan-perasaannya sebagai kelanjutan dari apa yang telah dimengerti pada segi intelektual.
● Bentuknya bisa berupa penyesalan, kelegaan, merasa bersalah, dan sebagainya.
● Sudah ada kontak antara kognisi dan emosi.
● Klien dikatakan ½ sembuh.
Perlu ditekankan bahwa jika insight hanya terjadi pada segi intelektual saja, hasil terapi menjadi tidak ada artinya karena pembentukan kembali pola dari segi emosional adalah bagian esensial dari proses terapeutik.
4. Working Through. Tahap merealisasikan yang telah diperoleh pada tahap insight. Tahapannya adalah :
a. Tahap intelektual : klien diharapkan mengaplikasikan apa yang telah dipelajari dan ditanamkan terapis dengan cara melakukan analogi kejadian-kejadian dalam kehidupan dalam berbagai situasi.
b. Tahap emosional : klien diharapkan dapat mengaplikasikan melalui emosi/afeksi terhadap kejadian-kejadian yang dihadapi dalam kehidupannya.
c. Tahap behavioral : mengaplikasikan pada situasi yang sesungguhnya; sudah bukan percobaan-percobaan lagi dan diharapkan klien sudah sembuh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar