Psikoterapi
Pendahuluan
Ketika manusia baru dilahirkan, ia berada dalam keadaan bergantung sepenuhnya pada lingkungan untuk dapat melanjutkan kehidupannya di dunia ini. Kondisi yang sepenuhnya bergantung kepada orang lain atau kepada lingkungan, pada hakekatnya menunjukkan bahwa manusia sejak lahir sudah ditandai oleh adanya kebutuhan untuk memperoleh bantuan dari lingkungan, termasuk dari orang yang melahirkan yaitu ibu kandung dan anggota keluarga lainnya.
Manusia dalam kehidupannya tidak mungkin melepaskan diri dari persoalan, dari masalah yang silih berganti muncul dan harus dihadapi dan diatasi. Masalah yang dihadapi dapat menjadi sumber berbagai kesulitan berperilaku dan kesulitan menyesuaikan diri. Yang lebih berat lagi, masalah bahkan dapat mengganggu kehidupan emosi dengan munculnya ketegangan, kecemasan atau depresi.
Dalam keadaan demikian diperlukan bantuan dari orang lain, yang sifatnya bukan hanya bantuan sesaat, bantuan insidental atau bantuan yang hanya mengandalkan belas kasihan, tetapi bantuan profesional yang bertujuan membantu seseorang sehingga orang tersebut nantinya mampu menolong dirinya sendiri.
Sejarah perkembangan psikoterapi
Sepanjang catatan sejarah, setiap masyarakat atau negara telah mencoba merawat setiap anggota atau warganya yang menderita gangguan psikologis. Bukti arkeologis menunjukkan bahwa pada jaman batu sekitar 5000 tahun yang lalu, kepala penghuni gua melubangi kepala penderita untuk mengusir “roh jahat” yang terperangkap didalamnya. Dalam kebudayaan Cina, Mesir dan Yunani kuno penduduk berkumpul bersama untuk mendoakan warga yang mengalami gangguan jiwa. Mereka juga mendera, melepaskan dan menyiksa guna memaksa setan (demon) keluar dari dalam diri penderita. Mereka berkeyakinan bahwa orang dengan gangguan mental dirasuki oleh roh jahat.
Kemajuan pemahaman gangguan mental dilakukan oleh Hippocrates (460-377 SM), yang menolak demonologi dan menyatakan bahwa gangguan mental merupakan akibat dari gangguan keseimbangan cairan tubuh. Beliau dan kawan-kawan menganjurkan terapi yang lebih manusiawi untuk penderita gangguan mental yaitu menyediakan lingkungan yang menyenangkan, latihan dan diet yang tepat, pemijatan, mandi berendam dan termasuk terapi yang kurang menyenangkan seperti berbekam (pengambilan darah), mencahar dan pengikatan yang bersifat mekanis. Walaupun tidak ada institusi untuk gangguan mental pada saat itu, tetapi banyak individu dirawat dengan sangat ramah oleh tenaga yang dikhususkan untuk memuja dewa-dewa Yunani dan Romawi Kuno.
Tetapi, kemajuan pandangan tentang gangguan mental ini tidak berlangsung terus. Takhayul primitif dan keyakinan akan demonologi timbul kembali pada abad pertengahan. Penderita gangguan mental dianggap bersekutu dengan setan dan memiliki kekuatan supernatural, sehingga mereka dapat menimbulkan banjir, wabah penyakit dan cedera pada orang lain. Individu yang mengalami gangguan serius diperlakukan dengan kejam. Orang percaya bahwa dengan memukuli, membuat kelaparan dan menyiksa penderita gangguan mental, mereka menghukum setan. Jenis kekejaman ini berpuncak dengan pengadilan pada penyihir yang menghukum mati ribuan orang (banyak darinya yang sesungguhnya mengalami gangguan jiwa) selama abad 15-17 an.
Asylum Kuno
Sepanjang abad 16 di Inggris, didirikan rumah sakit khusus yang disebut asylum, untuk menangani kasus yang mengalami kesulitan psikologis. Konsep tersebut kemudian menyebar ke seluruh daratan Eropa dan Amerika Serikat. Secara perlahan-lahan Lembaga-lembaga pemasyarakatan dan biara juga menggunakan teknik tersebut untuk merawat mereka yang mengalami gangguan jiwa. Kondisi dan praktek yang dijalankan dalam lembaga tersebut masih sangat menyedihkan. Pada asylum tersebut penderita akan diikat di dinding dan disiksa, dengan tujuan mengusir pengaruh setan.
Pada tahun 1780-1792, Philippe Pinel yang bertugas di salah satu asylum di Paris, mengadakan percobaan. Pinel membolehkan melepas rantai yang mengikat pada orang yang mengalami gangguan kejiwaan, kemudian ditempatkan di ruangan yang bersih dan tenang dan diperlakukan dengan baik. Banyak orang yang selama bertahun-tahun tidak berpengharapan sembuh, ternyata mengalami perbaikan yang besar dan diperbolehkan keluar dari asylum.
Benyamin Rush, pada tahun 1882 menciptakan kursi penenang dan mengajukan cara pengeluaran darah dan cara pencucian lain sebagai tambahan yang menurut pandangan masa kini lebih human dan berguna. Beliau adalah salah seorang pendiri Psikiatri di Amerika Serikat.
Dorothea Linx Dix, memprotes perlakuan kasar dan kejam terhadap orang yang mengalami gangguan mental, dan mengingatkan bahwa mereka juga memerlukan dan memiliki kebutuhan fisik.
Walaupun terjadi kemajuan ilmiah tersebut, pada awal 1900-an publik masih memandang rumah sakit jiwa dan penghuninya dengan rasa takut dan horornya. Clifford Beers mengambil tugas untuk menjelaskan kepada masyarakat tentang kesehatan mental, dimana Beers pernah selama 3 tahun sebagai penghuni rumah sakit baik swasta maupun pemerintah karena menderita gangguan bipolar. Setelah sembuh beliau menulis pengalamannya dalam bukunya a mind that found it self (1908), yang membangkitkan minat masyarakat. Beers dengan tidak kenal lelah mendidik masyarakat tentang gangguan mental dan membantu membentuk komite nasional kesehatan mental.
Kemudian muncul teknik hipnosis dan sugesti. Di Austria muncul Anton Mesmer, tokoh yang menggunakan teknik hipnosis dan sugesti untuk mengubah dorongan-dorongan psikis pada mereka yang mengalami gangguan kejiwaan. Jean Martin Charcot dan Hippolyte Bernheim di Perancis dengan orientasi yang lebih jelas bahwa gangguan-gangguan kejiwaan itu antara lain di latar belakangi oleh faktor-faktor psikologis.
Kemudian muncul Sigmund Freud, yang mengembangkan teknik psikoterapi yang dikenal dengan psikoanalisa. Yang banyak mempengaruhi dunia ilmu pengetahuan , kedokteran, psikiatri dan psikologi.
Pada tahun 1940-an muncul Carl R. Rogers, dengan teknik non directive dan client center approach, yang kemudian dikenal dengan personal center approach.
Pada tahun 1960-an dunia psikoterapi ditandai munculnya psikologi konseling dan psikologi klinis, sebagai suatu reaksi yang berkembang di masyarakat. Dan lebih lanjut muncul berbagai teknik dan teknik psikoterapi yang semakin banyak.
Profesi yang terlibat dalam psikoterapi
a. Dokter Ahli Jiwa (Psikiater)
b. Psikoanalis
c. Psikolog
d. Psikolog Klinis
e. Psikolog Konseling
f. Psikolog Sekolah
g. Pekerja Sosial Psikiatrik
h. Perawat Psikiatrik
i. Paraprofesional Kesehatan Jiwa
Buku Rujukan :
Atkinson, R.L., Atkinson, R.S., Smith dan Bem (1993), Pengantar Psikologi jilid 2, edisi Indonesia oleh Widjaya Kusuma), Batam : Interaksara.
Davidoff, L.L. (1991), Psikologi suatu pengantar jilid 2, edisi Indonesia oleh Mari Juniati, Jakarta : Erlangga.
DirgaGunarsa, S. (1996), Konseling dan Psikoterapi, Jakarta : BPK Gunung Mulia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar